UPT. PERPUSTAKAAN UNRAM SUKSES MENJADI KETUA PENYELENGGARA KPDI X DI LOMBOK – NTB

>>UPT. PERPUSTAKAAN UNRAM SUKSES MENJADI KETUA PENYELENGGARA KPDI X DI LOMBOK – NTB

UPT. PERPUSTAKAAN UNRAM SUKSES MENJADI KETUA PENYELENGGARA KPDI X DI LOMBOK – NTB

UPT.  PERPUSTAKAAN UNRAM SUKSES MENJADI KETUA PENYELENGGARA

KONFERENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL INDONESIA X

DI LOMBOK – NTB

Posted by : Humas Perpustakaan Unram

 

KPDI X mataram, telah berlangsung sukses, menyisakan kesan dan pesan yang mendalam dari segenap peserta yang telah hadir dan berpartisipasi, banyak hal positip yang di dapatkan, terutama lahirnya  komitmen bersama serta grand strategi untuk  membercepat  kemajuan perpustakaan  menuju “ digital akses” di seluruh indonesia. Kegiatan ini selaras dan sejalan dengan Agenda 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berisi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang terdiri dari 169 target pembangunan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, lingkungan, dan sosial. Seluruh tujuan ini diharapkan dapat tercapai lewat komitmen negara-negara di dunia melalui implementasi dan integrasi program-program kerja yang difokuskan pada pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, dan pembangunan masyarakat. TPB merupakan tujuan universal yang harus dicapai secara menyeluruh dengan dukungan dari semua aspek termasuk perpustakaan.

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berdampak pada berkembangnya upaya perpustakaan konvensional untuk membangun perpustakaan digital. Saat ini jejaring ‘perpustakaan digital’ telah memasuki tahapan di mana perpustakaan digital sudah dipandang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat secara luas melalui berbagai peran. Salah satu peran perpustakaan digital yang terkait dengan perkembangan terkini pada masyarakat dunia pada umumnya adalah upaya menunjang TPB. Perpustakaan digital dipandang memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian TPB melalui penyediaan akses ke informasi, sarana teknologi informasi dan komunikasi, bantuan kepada masyarakat dalam pembangunan kapasitas pemanfaatan informasi, serta pelestarian informasi untuk generasi mendatang. Hal inilah yang menjadi dasar Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia mengambil tema “Peran Perpustakaan Digital dalam Menunjang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2030” pada konferensi ke-10 (KPDI 10) tahun 2017 ini.

Perpustakaan di Indonesia saat ini, mulai tergugah untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi yang tak terbendung. Globalisasi informasi saat ini menjadi semakin deras seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Perpustakaan terutama di perguruan tinggi mulai ‘tersadar’ untuk mencoba memberikan nuansa lain dengan memberikan layanan yang berbasis teknologi informasi. Banyak perpustakaan yang mencoba ‘mengangkat’ tema ‘digital library’ atau perpustakaan digital sebagai bagian dari sistem terbaru layanan pengguna dalam mengantisipasi globalisasi informasi. Walaupun ada kekawatiran dalam diri penulis, apakah mereka sudah benar-benar memahami konsep ‘digital library’ secara pas dan ‘benar’ atau belum. Jangan-jangan sebetulnya apa yang dibangun hanya ‘sekedar’ digital collection  belum sampai pada sebuah sistem ‘digital library’ secara utuh.

Konsep ‘digital library’ sendiri sebetulnya bukan merupakan konsep baru, namun akhir-akhir ini memang kembali menjadi pilihan bagi para pelaku di dunia perpustakaan untuk ‘ditekuni’ dan ditampilkan kepada pengguna. Konsep ‘digital library(ies)’ ini dimulai pada tahun 1945 dengan adanya Vannenar Bush’s Memex Machine yang memberikan stimulasi awal bagi aplikasi sistem  untuk temu kembali informasi (information retrieval). Konsep itu berkembang ke dalam area yang lebih luas lagi, mulai dari database bibliografis yang besar, temu kembali online, dan  akses system. Apalagi dengan adanya internet yang memungkinkan sistem terhubung ke dalam sebuah jaringan informasi yang luas, konsep digital menjadi trend kembali dan pembuatan ‘libraries of information digital’ yang dapat diakses oleh siapapun dari manapun di dunia menjadi penting. Perkembangan konsep digital tersebut ‘menciptakan’  berbagai istilah yang sering digunakan seperti ‘virtual library’, ‘electronic library’, ‘library without walls’, ‘bionic library’ , hingga saat ini yang paling sering disebutkan adalah ‘digital library’.

Sejalan dengan semangat perpustakaan di berbagai perguruan tinggi yang ingin mencoba mengedepankan ‘digital library’ dalam ystem pelayanannya, maka perlu kiranya pemahaman yang lebih dalam mengenai apa sebenarnya definisi ‘digital library’, apa tujuan ‘digital library’, bagaimana itu diterapkan di perpustakaan, apa saja tantangan yang dihadapi, dan apa saja yang harus dilakukan oleh perpustakaan

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) membuka peluang bagi setiap perpustakaan konvensional untuk mulai membangun koleksi bahan perpustakaan digital untuk dilayankan kepada pemustaka. Teknologi jaringan juga membuka peluang bagi perpustakaan untuk memanfaatkan bersama sumber informasi digital yang dimiliki, yaitu dengan menyediakan akses bagi perpustakaan lain ke koleksi digital miliknya dan sebaliknya. Dengan demikian peluang suatu perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka semakin besar.

Peralihan dari tahap pengembangan koleksi digital yang berdiri sendiri ke tahap pengembangan jejaring ‘perpustakaan digital’ untuk pemanfaatan bersama sumber informasi yang dimiliki tentunya bukan proses yang sederhana. Salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam proses pengembangan jejaring perpustakaan digital adalah peralihan generasi pengguna dari digital immigrants ke digital natives. Digital immigrants adalah istilah yang dipakai untuk generasi yang dilahirkan sebelum tahun 1980an yang mengalami perubahan dan adaptasi dari era analog ke era digital sedangkan digital natives merujuk pada generasi setelahnya yang tumbuh secara utuh dalam era digital sehingga menjadi generasi “penutur asli” bahasa digital sistem dan internet.

Generasi digital immigrants dan digital natives memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda pula. Peralihan generasi dari digital immigrants ke digital natives menuntut perpustakaan digital beradaptasi dan mengadopsi berbagai aspek yang terkait dengan pengguna generasi digital natives. Hal inilah yang menjadi dasar Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia mengambil tema “Peran Perpustakaan Diogital Dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainability Development goals )” pada konferensi ke-10 (KPDI 10 ) tahun 2017 ini.

Peluang Strategis Penerapan perpustakaan Digital di Nusa Tenggara Barat

Ada beberapa peluang strategis yang dapat dimanfaatkan oleh NTB selaku tuan rumah dengan adanya momen konferensi perpustakaan digital  di Mataram  dalam rangka menuju sistem ‘digital library’ adalah sebagai berikut:

1. Pengembangan Sistem Otomasi Perpustakaan

Mengapa sistem otomasi perpustakaan dapat menjadi bagian dari ‘digital library’? Karena melalui sistem otomasi ini sedapat mungkin perpustakaan dapat menampilkan sebuah sistem layanan yang berbasis elektronis yang memungkinkan berbagai macam kemudahan dalam pengelolaan objek informasi. Otomasi perpustakaan ini akan berguna bagi seluruh pengguna perpustakaan seperti pustakawan, manajemen, dan juga pengguna. Berbagai transaksi dan laporan akan ditampilkan secara elektronis/digital melalui sistem otomasi ini. Rekaman transaksi dan laporan kegiatan layanan perpustakaan yang terekam secara elektronis merupakan satu objek informasi penting dapat disediakan oleh perpustakaan. Untuk itu pengembangan sistem otomasi perpustakaan harus dapat menampilkan berbagai macam informasi tidak hanya metadata seperti sistem atau indeks, tetapi juga harus dapat menampilkan berbagai rekaman kegiatan perpustakaan diantaranya transaksi sirkulasi, rekaman keanggotaan, data       sistemic, rekaman koleksi dan lain sebagainya.

2. Pengembangan Sistem Informasi Online

Hal lain yang dapat dilakukan dalam rangka menerapkan konsep ‘digital library’ adalah adanya sebuah sistem informasi online. Hal ini dapat diwujudkan dengan menciptakan sebuah sistem berbasis jaringan baik untuk keperluan intranet dan/atau Local Area Network (LAN) maupun internet dan/atau Wide Area Network (WAN). Saat ini yang paling mudah dan banyak dilakukan adalah menggunakan fasilitas World Wide Web (Web). Melalui Web perpustakaan dapat membangun sebuah sistem  informasi online yang menyediakan objek informasi seperti sistem, indeks, arsip, hasil posting newsgroup, koleksi email, sumber komersial, sumber hiburan, artikel personal, hingga layanan perpustakaan (daftar pertanyaan referensi, analisis sistemic, pustakawan online, asisten online, dan sebagainya). Selain itu melalui sistem informasi online, perpustakaan dapat menyediakan berbagai koleksi digital yang dimilikinya baik yang dibeli, dilanggan, maupun yang didapat secara gratis.

3. Pengembangan koleksi digital

Tahap selanjutnya yang perlu dilakukan dalam menerapkan ‘digital library’ adalah membangun koleksi digital. Membangun koleksi digital menurut Cleveland (1998) dapat dilakukan dengan tiga metode penting yakni; digitasi, pengadaan karya digital asli, dan akses ke dalam sumber-sumber eksternal. Digitasi merupakan proses konversi koleksi berbentuk cetak, analog atau media lain — seperti buku, artikel jurnal, foto, lukisan, bentuk mikro— ke dalam bentuk elektronik atau digital melalui proses scanning, sampling, atau re-keying.  Pengadaan karya digital asli disini maksudnya adalah mengadakan baik melalui metode membeli atau berlangganan karya digital asli dari penerbit atau peneliti dalam bentuk misalnya jurnal elektronik (e-journal), buku elektronik (e-books), dan database online (seperti Ebsco, Proquest, ScienceDirect, dll). Sedangkan akses ke dalam sumber eksternal disini maksudnya adalah perpustakaan harus mempunyai semacam jaringan kepada sumber lain yang tidak tersedia secara yste yang disediakan melalui website, koleksi perpustakaan lain, atau server milik penerbit-penerbit.

Tema

“Peran Perpustakaan Digital dalam Menunjang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2030”.

Topik

  1. Perpustakaan digital dalam meningkatkan akses ke public knowledge;
  2. Perpustakaan digital dalam mendukung inovasi dan invensi pengetahuan;
  3. Manifestasi perpustakaan digital dalam pelestarian budaya;
  4. Perpustakaan digital dan pembangunan kapasitas sosial kemasyarakatan.

                                                                          

Tujuan

KPDI 10 diharapkan akan menjadi sarana berbagi pengalaman, pengetahuan, saran dan rumusan mengenai peran perpustakaan digital dalam menunjang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dalam Agenda 2030 PBB.

Kegiatan berlangsung lancar dan sukses didahului dengan penampilan tari kolosal khas lombok  “ tari putri madalika “ mampu mebuat  seluruh peserta yang hadir tidak kurang dari 500 orang peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh propinsi yang ada di indonesia baik dari perpustakaan kabupaten / kota, p[erpustakaan khusus, perpustakaan Pergururan Tinggi, para praktisi dan pegiat literasi  indonesia. Acara dibuka secara resmi oleh Bapak Gubernur Nusa Tenggara Barat ( diwakili oleh Sekda NTB Dr. H. Rosiadi Sayuti ), di dahului dengan penyampaian sambutan oleh ketua penyelenggara Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke 10 ( Muslimin S.Sos. MM ).

 

By |2019-03-13T07:05:04+00:00March 13th, 2019|Berita|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment